Prodi Keguruan Tidak Perlu Kuliah Jauh-Jauh

Prodi Keguruan Tidak Perlu Kuliah Jauh-Jauh

Joki tugas – Jika Anda kuliah di program studi keguruan, kami menyarankan agar Anda tidak perlu memaksakan diri untuk kuliah terlalu jauh, apalagi sampai harus menyeberang pulau, jika pilihan kampus yang berkualitas masih tersedia di kota sendiri atau di daerah terdekat.

Misalnya, Anda berasal dari Medan dan ingin mengambil Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris di Universitas Negeri Surabaya. Tentu tidak ada yang salah dengan pilihan tersebut. Universitas Negeri Surabaya adalah kampus yang baik dan memiliki reputasi di bidang kependidikan. Namun, pertanyaannya bukan hanya apakah kampus tersebut bagus, melainkan apakah keputusan merantau sejauh itu benar-benar memberikan keuntungan yang sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan keluarga?

Jika di Medan Anda bisa mengambil bidang studi yang sama atau sangat berdekatan di Universitas Sumatera Utara, maka pilihan kuliah di daerah sendiri layak dipertimbangkan secara serius.

Mengapa kami merekomendasikan hal ini?

Karena kuliah bukan hanya persoalan membayar UKT. Banyak mahasiswa dan orang tua terkadang hanya menghitung biaya kuliah, tetapi lupa bahwa biaya hidup selama merantau juga harus dibayar setiap bulan. Ada biaya kos, makan, transportasi, pulsa dan internet, laundry, kebutuhan kuliah, obat-obatan ketika sakit, biaya pulang kampung, hingga berbagai pengeluaran kecil yang jika dijumlahkan ternyata sangat besar.

Bayangkan jika seorang mahasiswa berasal dari keluarga dengan penghasilan orang tua sekitar Rp3 juta per bulan. Kemudian anaknya kuliah ribuan kilometer dari rumah. Orang tua bukan hanya harus memikirkan UKT, tetapi juga harus mengirim uang untuk biaya hidup anak setiap bulan.

Dalam kondisi seperti ini, keputusan merantau bisa menjadi beban finansial yang sangat berat.

Bahkan dalam beberapa kondisi, biaya hidup selama empat tahun kuliah bisa jauh lebih besar daripada UKT yang dibayarkan kepada kampus. Misalnya, seorang mahasiswa mengeluarkan Rp1,5 juta sampai Rp2,5 juta per bulan untuk kos dan kebutuhan hidup. Jika dikalikan selama empat tahun, jumlahnya sudah mencapai puluhan bahkan lebih dari seratus juta rupiah. Itu belum termasuk UKT, laptop, buku, transportasi, biaya pulang kampung, kegiatan kampus, dan kebutuhan tidak terduga.

Karena itu, jangan sampai seseorang mengejar nama kampus yang dianggap lebih bergengsi, tetapi keluarganya harus berutang atau mengalami tekanan ekonomi selama bertahun-tahun.

Kuliah di kota sendiri bukan berarti Anda tidak serius membangun masa depan.

Justru bagi mahasiswa dari keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas, kuliah dekat rumah bisa menjadi strategi finansial yang sangat rasional. Uang yang seharusnya digunakan untuk kos dan biaya hidup di perantauan dapat dialihkan untuk membeli laptop yang lebih baik, mengikuti pelatihan, membeli buku, mengikuti kursus bahasa Inggris, mengambil sertifikasi, membangun portofolio, atau bahkan ditabung untuk mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) setelah lulus.

Ini penting karena dalam profesi guru, nama besar universitas bukan satu-satunya faktor yang menentukan masa depan seseorang.

Guru memang membutuhkan kompetensi akademik, kemampuan pedagogis, kemampuan mengelola kelas, penguasaan materi, komunikasi yang baik, integritas, serta kemampuan memahami karakter peserta didik. Oleh karena itu, mahasiswa keguruan seharusnya tidak hanya mengejar almamater, tetapi juga mengejar kompetensi.

Bayangkan ada dua mahasiswa.

Mahasiswa pertama kuliah jauh dari rumah di kampus yang dianggap lebih bergengsi. Selama kuliah, sebagian besar energi keluarganya habis untuk membiayai kos, makan, transportasi, dan kebutuhan hidup. Ia bahkan harus bekerja sambilan karena kiriman orang tua terbatas.

Mahasiswa kedua kuliah di kota sendiri. Biaya hidupnya jauh lebih rendah karena masih bisa tinggal bersama orang tua. Selama kuliah, ia menggunakan uang yang tersedia untuk mengikuti pelatihan mengajar, belajar bahasa Inggris, mengikuti organisasi, menjadi tutor, melakukan praktik mengajar, membangun pengalaman, dan mempersiapkan diri mengikuti PPG.

Belum tentu mahasiswa pertama akan memiliki masa depan yang lebih baik.

Inilah keresahan yang sering terlupakan ketika masyarakat terlalu mengagungkan nama kampus.

Memang, untuk sejumlah profesi tertentu, reputasi kampus bisa memberikan keuntungan besar. Untuk bidang tertentu di perusahaan swasta, industri teknologi, konsultan, perbankan, hukum, maupun profesi lainnya, jaringan alumni dan reputasi universitas dapat menjadi salah satu faktor yang membantu seseorang memasuki dunia kerja.

Namun, profesi guru memiliki karakteristik yang agak berbeda. Dunia pendidikan memiliki jalur pengembangan profesi dan sertifikasi tersendiri. Kompetensi mengajar, kualifikasi akademik, pengalaman, sertifikasi, serta kebutuhan tenaga pendidik di suatu daerah dapat menjadi faktor yang jauh lebih relevan daripada sekadar berasal dari kampus yang terkenal.

Tentu bukan berarti kuliah di kampus ternama tidak berguna. Jika keluarga memang mampu membiayainya tanpa mengalami kesulitan, silakan saja. Jika Anda mendapatkan beasiswa penuh, fasilitas pendidikan yang sangat baik, atau ada alasan akademik yang benar-benar kuat untuk kuliah di luar daerah, merantau tentu bisa menjadi pilihan yang bagus.

Masalahnya adalah ketika seseorang memaksakan diri merantau hanya karena merasa kampus di daerahnya kurang bergengsi.

Jangan sampai gengsi pendidikan mengalahkan kemampuan ekonomi keluarga.

Jika orang tua memiliki penghasilan yang cukup besar, misalnya sekitar Rp10 juta atau lebih per bulan, dan biaya kuliah serta biaya hidup anak di perantauan memang dapat ditanggung dengan nyaman, tentu persoalannya berbeda. Merantau dapat memberikan pengalaman hidup, kemandirian, jaringan pertemanan yang lebih luas, serta kesempatan mengenal lingkungan baru.

Tetapi jika penghasilan keluarga pas-pasan, keputusan pendidikan harus dibuat dengan lebih realistis.

Kita harus berani mengatakan bahwa tidak semua anak harus merantau untuk menjadi sukses.

Ada anak yang sukses setelah kuliah di universitas negeri di kotanya sendiri. Ada yang sukses setelah kuliah di perguruan tinggi swasta. Ada yang sukses setelah mengambil kuliah online. Ada yang menjadi guru, dosen, pegawai pemerintah, pengusaha pendidikan, penulis buku, tutor, atau membuka lembaga kursus tanpa pernah kuliah jauh dari kampung halamannya.

Yang perlu dikejar sebenarnya bukan jarak kampus, tetapi kualitas diri.

Jika Anda mahasiswa keguruan, gunakan masa kuliah untuk membangun kemampuan yang benar-benar dibutuhkan. Tingkatkan kemampuan mengajar. Kuasai teknologi pendidikan. Belajar membuat bahan ajar. Tingkatkan kemampuan bahasa asing. Ikuti organisasi dan kegiatan sosial. Cari pengalaman menjadi tutor atau pengajar. Bangun kemampuan berbicara di depan umum. Pelajari cara membuat media pembelajaran yang menarik.

Setelah lulus, jangan berhenti belajar. Cari informasi mengenai PPG, sertifikasi, rekrutmen guru, sekolah swasta, seleksi ASN, serta berbagai peluang kerja di bidang pendidikan.

Jangan pula berpikir bahwa setelah lulus S1 keguruan Anda otomatis menjadi PNS. Menjadi ASN maupun mendapatkan sertifikasi guru memiliki persyaratan dan proses seleksi yang harus dipenuhi. Karena itu, jangan menggantungkan masa depan hanya pada ijazah. Persiapkan kompetensi dan ikuti jalur resmi yang tersedia.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi seharusnya membantu keluarga naik kelas, bukan membuat keluarga jatuh ke dalam masalah keuangan.

Kalau kuliah di kota sendiri sudah menyediakan program studi yang sesuai dan kualitas pendidikannya memadai, tidak ada alasan untuk merasa rendah diri hanya karena tidak merantau. Anda tidak perlu membayar mahal hanya demi mengatakan kepada orang lain bahwa Anda kuliah di luar pulau.

Ingat, tujuan kuliah bukan untuk terlihat keren ketika menyebut nama kampus.

Tujuan kuliah adalah memperoleh ilmu, kompetensi, pengalaman, jaringan, dan bekal untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Kalau semua itu bisa diperoleh tanpa harus menguras keuangan keluarga, mengapa harus memaksakan diri merantau?

Kuliah dekat rumah bukan berarti memiliki cita-cita yang kecil. Bisa jadi justru itulah keputusan paling cerdas bagi keluarga yang sedang berjuang secara ekonomi.