Joki tugas – Banyak mahasiswa Indonesia masih cenderung memilih jalan yang aman ketika menentukan program studi di perguruan tinggi. “Aman” sering kali diterjemahkan secara sederhana: kuliahnya tidak terlalu sulit, tugasnya masih bisa dikerjakan, tidak terlalu banyak matematika, tidak terlalu banyak praktikum, dan yang paling penting, kemungkinan lulusnya tinggi. Cara berpikir seperti ini sebenarnya sangat manusiawi. Tidak semua orang ingin menjalani masa kuliah dengan tekanan akademik yang berat. Banyak mahasiswa ingin cepat lulus, mendapatkan ijazah, lalu segera masuk ke dunia kerja.
Masalahnya, keputusan memilih prodi berdasarkan tingkat kemudahan sering kali hanya melihat biaya yang harus dibayar selama kuliah, tetapi tidak melihat harga yang mungkin harus dibayar setelah lulus.
Mahasiswa bisa merasa menang karena berhasil memilih jurusan yang relatif mudah. Namun empat tahun kemudian, ketika memasuki pasar kerja, barulah muncul pertanyaan yang jauh lebih penting: “Setelah saya lulus, keahlian saya dihargai berapa?”
Inilah keresahan yang sering tidak dibicarakan ketika siswa SMA memilih jurusan.
Ada kecenderungan bahwa sebagian mahasiswa tertarik pada bidang-bidang yang dianggap relatif nyaman secara akademik. Humaniora, misalnya, sering diasosiasikan dengan mata kuliah yang lebih banyak membaca, menulis, berdiskusi, dan membuat tugas dibandingkan menghadapi kalkulus, fisika, pemrograman, praktikum laboratorium, atau desain teknis yang kompleks. Sastra Indonesia, sejarah, dan beberapa bidang ilmu sosial-humaniora kemudian dipersepsikan sebagai pilihan yang lebih “aman”.
Tetapi persoalannya bukan apakah prodi tersebut mudah atau sulit. Persoalannya adalah apa yang terjadi setelah mahasiswa menyelesaikan prodi tersebut.
Kuliah sebenarnya bukan sekadar perlombaan untuk mendapatkan gelar dengan usaha seminimal mungkin. Perguruan tinggi adalah tempat seseorang membangun human capital, yaitu kemampuan yang nantinya dapat dijual di pasar kerja. Karena itu, mahasiswa seharusnya tidak hanya bertanya, “Apakah saya bisa lulus dari sini?” tetapi juga bertanya, “Setelah saya lulus, kemampuan saya dibutuhkan siapa?”
Ini merupakan perubahan cara berpikir yang sangat penting.
Misalnya, seorang mahasiswa memilih prodi tertentu karena mendengar bahwa tingkat kelulusannya relatif tinggi. Ia kemudian menghabiskan empat tahun dengan relatif nyaman. Nilainya bagus, skripsinya selesai, dan akhirnya mendapatkan gelar sarjana. Tetapi ketika masuk dunia kerja, ia mendapati bahwa banyak posisi yang tersedia tidak secara spesifik membutuhkan kompetensi yang dimilikinya.
Pada saat yang sama, mahasiswa teknik mungkin mengalami cerita yang berbeda. Mereka harus menghadapi matematika, fisika, praktikum, pemrograman, desain, proyek, laporan teknis, hingga berbagai mata kuliah yang membuat sebagian mahasiswa bahkan berpikir untuk menyerah. Kuliahnya lebih melelahkan. Tingkat frustrasinya mungkin lebih tinggi. Tetapi justru karena proses pembentukan kompetensinya lebih berat, lulusan tertentu dari bidang teknik memiliki keahlian yang lebih spesifik dan dibutuhkan industri.
Di sinilah kita perlu memahami sebuah prinsip sederhana: sesuatu yang lebih sulit belum tentu lebih baik, tetapi sesuatu yang memiliki hambatan masuk tinggi sering kali memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Pasar kerja tidak selalu membayar seseorang berdasarkan seberapa keras ia belajar. Pasar membayar berdasarkan seberapa langka, berguna, dan sulit digantikan kemampuan yang dimiliki seseorang.
Seorang engineer yang mampu merancang sistem, mengoperasikan fasilitas industri, mengembangkan teknologi, atau menyelesaikan persoalan teknis yang kompleks memiliki kompetensi yang tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca buku selama beberapa bulan. Ada proses pendidikan, latihan, pengalaman, dan sertifikasi yang harus dilewati. Hambatan tersebut membuat jumlah orang yang mampu melakukan pekerjaan tertentu menjadi lebih terbatas.
Itulah mengapa lulusan teknik sering memiliki daya tarik tersendiri di dunia industri. Ada semacam persepsi bahwa mahasiswa teknik sudah terbiasa menghadapi masalah yang sulit, berpikir sistematis, bekerja dengan angka, melakukan analisis, dan menyelesaikan persoalan dengan batasan tertentu.
Fenomena ini bahkan terlihat dalam pemerintahan. Kita mengenal istilah teknokrat, yaitu orang-orang yang menggunakan pengetahuan dan keahlian teknis untuk merancang kebijakan serta menyelesaikan persoalan pembangunan. Tidak mengherankan apabila latar belakang teknik, ekonomi, statistik, dan bidang kuantitatif lainnya sering mendapatkan tempat penting dalam perencanaan pembangunan.
Namun, bukan berarti semua orang harus masuk teknik.
Ini juga merupakan jebakan baru apabila argumen “prodi sulit menghasilkan gaji tinggi” diterjemahkan secara terlalu sederhana. Tidak semua lulusan teknik otomatis kaya. Tidak semua lulusan humaniora memiliki penghasilan rendah. Banyak lulusan humaniora yang berhasil membangun karier luar biasa sebagai pengusaha, penulis, diplomat, akademisi, konsultan, profesional kreatif, maupun pemimpin organisasi.
Masalah utamanya adalah jangan menjadikan kemudahan lulus sebagai alasan utama memilih jurusan.
Kalau seseorang memang mencintai sejarah, silakan belajar sejarah. Kalau seseorang memiliki kemampuan bahasa yang luar biasa dan ingin menjadi ahli bahasa, sastra bisa menjadi pilihan yang sangat baik. Kalau seseorang ingin menjadi psikolog, maka psikologi juga memiliki jalur profesi yang jelas. Tetapi pilihan tersebut seharusnya lahir dari kombinasi antara minat, kemampuan, prospek, dan strategi karier—bukan semata-mata karena “katanya gampang lulus”.
Lebih berbahaya lagi jika mahasiswa memilih prodi mudah tetapi tidak pernah membangun kompetensi tambahan. Empat tahun berlalu, ijazah diperoleh, tetapi keterampilan yang dapat dijual kepada pasar kerja tidak bertambah secara signifikan.
Karena itu, calon mahasiswa seharusnya mulai mengubah pertanyaan.
Jangan hanya bertanya, “Prodi mana yang paling mudah?”
Tanyakan: “Kompetensi apa yang akan saya miliki setelah lulus?”
Kemudian lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih keras: “Siapa yang membutuhkan kompetensi tersebut?” “Berapa banyak orang yang memiliki kompetensi yang sama?” “Apakah kompetensi tersebut sulit digantikan?” “Apakah saya bisa mengembangkan kompetensi tersebut menjadi bisnis?” dan “Bagaimana prospek penghasilannya dalam sepuluh tahun?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak tugas yang harus dikerjakan selama kuliah.
Kuliah yang sulit memang melelahkan. Tetapi terkadang justru kesulitan itulah yang membentuk keunggulan. Mahasiswa dipaksa berpikir lebih dalam, menguasai alat yang lebih kompleks, menyelesaikan masalah yang tidak memiliki jawaban sederhana, dan beradaptasi dengan standar industri.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan tinggi bukanlah lulus dengan penderitaan paling sedikit. Tujuannya adalah keluar dari kampus dengan kemampuan yang membuat kita lebih bernilai.
Jadi, kepada calon mahasiswa, jangan terlalu cepat bangga ketika menemukan prodi yang “gampang”. Kemudahan memang menyenangkan selama empat tahun. Tetapi karier berlangsung jauh lebih lama daripada masa kuliah.
Jangan menukar empat tahun kuliah yang sedikit lebih sulit dengan puluhan tahun karier yang penuh keterbatasan.
Pilihlah prodi bukan karena mudah untuk ditaklukkan, tetapi karena kompetensi yang diberikan layak diperjuangkan.
Sebab pada akhirnya, yang menentukan masa depan bukanlah seberapa mudah kita mendapatkan gelar, melainkan seberapa bernilai kemampuan yang kita bawa setelah mendapatkan gelar tersebut.

