Ketika Mahasiswa Mengubah Gaya Hidup dari Sederhana Menjadi Hedon

Ketika Mahasiswa Mengubah Gaya Hidup dari Sederhana Menjadi Hedon

Joki tugas – Salah satu kelemahan yang sering terjadi ketika seseorang berpindah dari kehidupan SMA ke kehidupan perkuliahan adalah perubahan gaya hidup. Ketika masih SMA, kehidupan seorang pelajar biasanya relatif sederhana. Makan di warteg, menggunakan pakaian yang sudah dimiliki, membawa tas yang sama selama bertahun-tahun, dan berkumpul dengan teman tanpa harus mengeluarkan banyak uang merupakan hal yang biasa. Namun, ketika memasuki dunia perkuliahan, seseorang mulai mengenal lingkungan sosial yang lebih luas. Di sinilah gaya hidup dapat berubah secara perlahan tanpa disadari.

Mahasiswa yang sebelumnya terbiasa makan sederhana di warteg dengan harga sekitar Rp12 ribu sekali makan, misalnya, mulai merasa bahwa makan di warteg sudah tidak sesuai dengan gaya hidup lingkungan pergaulannya. Nongkrong di kafe kemudian menjadi kebiasaan. Sekali ngopi dan makan bisa menghabiskan Rp68 ribu atau bahkan lebih. Kalau dilakukan setiap hari, pengeluaran yang awalnya terlihat kecil akan berubah menjadi beban yang besar.

Coba hitung secara sederhana. Jika seseorang menghabiskan Rp68 ribu setiap hari untuk makan dan nongkrong, dalam sebulan jumlahnya bisa mencapai sekitar Rp2 juta hanya untuk aktivitas tersebut. Padahal, ketika masih terbiasa makan sederhana dengan biaya Rp12 ribu sekali makan, pengeluarannya bisa jauh lebih rendah. Perbedaan tersebut mungkin terlihat kecil ketika hanya dihitung per transaksi, tetapi menjadi sangat besar ketika dikumpulkan selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun.

Masalahnya bukan sekadar soal makan di kafe. Persoalan yang lebih besar adalah ketika mahasiswa mulai menjadikan gaya hidup sebagai bagian dari identitas sosialnya. Ia mulai merasa harus menggunakan pakaian tertentu, membeli sepatu bermerek, menggunakan tas mahal, mengikuti tren gadget, pergi ke tempat-tempat populer, atau nongkrong di tempat tertentu agar dianggap mengikuti perkembangan zaman.

Pada titik tertentu, mahasiswa tidak lagi membeli sesuatu karena memang membutuhkannya, tetapi karena takut terlihat berbeda dari kelompok pergaulannya.

Inilah yang menurut saya perlu diwaspadai.

Mahasiswa perlu memahami bahwa kehidupan perkuliahan bukanlah kompetisi untuk menunjukkan siapa yang paling mampu mengeluarkan uang. Kampus seharusnya menjadi tempat untuk membangun modal manusia, bukan tempat untuk menghabiskan modal keluarga demi mendapatkan pengakuan sosial.

Apalagi sebagian besar mahasiswa masih mendapatkan uang dari orang tua. Artinya, uang tersebut pada dasarnya bukan hasil dari kerja keras mahasiswa sendiri. Orang tua bekerja, menabung, dan menyisihkan sebagian penghasilannya agar anaknya dapat berkuliah. Sangat disayangkan apabila uang tersebut justru habis untuk kebutuhan konsumtif yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Bayangkan jika uang yang biasanya digunakan untuk nongkrong dan membeli barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan dialihkan untuk sesuatu yang memberikan manfaat jangka panjang. Mahasiswa bisa membeli buku, mengikuti kursus, mengambil sertifikasi, belajar bahasa asing, mengikuti pelatihan, membangun portofolio, membeli perangkat yang menunjang pekerjaan, atau bahkan menabung sebagai modal usaha.

Mahasiswa akuntansi, misalnya, dapat mulai mempersiapkan sertifikasi profesional seperti CPA ketika memang memenuhi persyaratan dan jalur yang sesuai. Mahasiswa pendidikan juga dapat menggunakan sebagian uangnya untuk mengikuti pelatihan atau sertifikasi yang relevan dengan bidang pendidikan dan pengajaran. Mahasiswa teknik dapat mengambil pelatihan software profesional. Mahasiswa ilmu komputer dapat mengembangkan kemampuan pemrograman dan cloud computing. Intinya, uang yang dikeluarkan selama kuliah seharusnya sebisa mungkin menghasilkan peningkatan kemampuan.

Bukan berarti mahasiswa tidak boleh menikmati kehidupan. Menikmati kopi di kafe, membeli pakaian bagus, pergi bersama teman, atau sesekali makan di restoran tentu bukan sebuah dosa. Masalahnya muncul ketika konsumsi tersebut berubah menjadi kebiasaan yang tidak terkendali dan mengalahkan kebutuhan untuk membangun masa depan.

Ada perbedaan besar antara menikmati uang dan menjadikan konsumsi sebagai gaya hidup.

Kalau sesekali ngafe karena ingin bersantai, tidak masalah. Tetapi kalau merasa harus ngafe setiap hari karena takut dianggap tidak gaul, itu sudah menjadi persoalan. Kalau membeli pakaian karena memang membutuhkan pakaian baru, tentu masuk akal. Tetapi kalau terus membeli pakaian karena mengikuti tren, padahal lemari sudah penuh, maka kita perlu bertanya kembali apa sebenarnya yang sedang kita kejar.

Hal lain yang sering dilupakan adalah lingkungan pergaulan. Lingkungan sangat menentukan pola pengeluaran seseorang. Jika setiap hari kita bergaul dengan orang-orang yang memiliki kebiasaan menghabiskan uang, lama-kelamaan kita bisa menganggap kebiasaan tersebut sebagai sesuatu yang normal. Sebaliknya, jika kita berteman dengan orang yang terbiasa hidup hemat, belajar bersama, mencari pekerjaan sampingan, mengikuti kompetisi, membangun bisnis, atau mengejar sertifikasi, kita juga akan terdorong melakukan hal yang sama.

Karena itu, mahasiswa sebaiknya tidak merasa rendah diri ketika tidak mampu mengikuti gaya hidup teman-temannya. Tidak memiliki tas mahal bukan berarti kita lebih rendah. Membeli pakaian thrift bukan berarti kita gagal secara sosial. Makan di warteg bukan berarti kita miskin. Menggunakan barang yang sama selama bertahun-tahun juga bukan sesuatu yang memalukan.

Justru, kemampuan untuk menahan keinginan konsumtif ketika masih muda merupakan sebuah keunggulan.

Ada mahasiswa yang ketika kuliah menghabiskan sebagian besar uang bulanannya untuk nongkrong, pakaian, kendaraan, dan berbagai kebutuhan gaya hidup. Empat tahun kemudian, ketika lulus, ia tidak memiliki tabungan yang berarti dan belum mempunyai keterampilan tambahan yang membedakannya dari ribuan lulusan lain.

Di sisi lain, ada mahasiswa yang selama kuliah hidup sederhana. Ia mungkin makan di warteg, membeli pakaian bekas yang masih layak, menggunakan laptop yang bukan keluaran terbaru, dan jarang nongkrong di kafe. Tetapi selama empat tahun ia mengumpulkan sertifikasi, mengikuti pelatihan, membangun portofolio, memperluas jaringan, dan menyimpan sebagian uangnya.

Ketika keduanya lulus, kondisi mereka bisa sangat berbeda.

Yang satu memiliki gaya hidup yang terlihat menarik tetapi tidak memiliki banyak aset untuk masa depan. Yang satu lagi mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki skill, sertifikasi, pengalaman, jaringan, portofolio, dan tabungan.

Dalam dunia kerja, hal-hal tersebut jauh lebih penting daripada seberapa mahal tas yang kita gunakan ketika kuliah.

Karena itu, masa mahasiswa sebaiknya digunakan sebagai masa membangun fondasi kehidupan. Jangan sampai kita mengorbankan masa depan hanya untuk mendapatkan pengakuan sosial selama beberapa tahun di kampus.

Hidup sederhana bukan berarti tidak menikmati kehidupan. Hidup sederhana berarti mampu membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan gengsi.

Kalau masih mendapatkan uang dari orang tua, jangan buru-buru berpikir bagaimana menghabiskannya. Sebaliknya, pikirkan bagaimana uang tersebut dapat menjadi modal untuk membuat diri kita lebih bernilai.

Makan sederhana, menggunakan barang yang masih layak, membeli pakaian thrift, memilih pergaulan yang tidak konsumtif, dan mengurangi kebiasaan nongkrong bukan berarti kita sedang kehilangan masa muda. Justru kita sedang membeli sesuatu yang jauh lebih mahal: kebebasan finansial dan kesempatan untuk memiliki masa depan yang lebih baik.

Pada akhirnya, mahasiswa bukan sedang berlomba menjadi orang yang paling terlihat kaya di kampus. Mahasiswa sedang mempersiapkan dirinya agar setelah lulus mampu berdiri dengan kemampuan sendiri. Maka, jangan sampai uang yang seharusnya menjadi investasi untuk masa depan justru habis untuk mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya tidak kita butuhkan.