Membangun Kampus di Tengah Pedesaan: Strategi Menekan Biaya Hidup dan Menghidupkan Ekonomi Desa

Membangun Kampus di Tengah Pedesaan: Strategi Menekan Biaya Hidup dan Menghidupkan Ekonomi Desa

Joki tugas – Ketika sebuah kampus sudah tidak mampu lagi menampung jumlah mahasiswa karena keterbatasan lahan, solusi yang paling sering muncul adalah membangun gedung baru di kawasan yang dianggap strategis. Biasanya, kawasan tersebut berada di pusat kota, dekat jalan besar, pusat perbelanjaan, kawasan bisnis, hotel, restoran, dan berbagai fasilitas komersial. Dari sudut pandang bisnis, pilihan tersebut memang terlihat menarik. Akses mudah, nilai tanah tinggi, dan lingkungan sudah berkembang.

Namun, saya justru memiliki pandangan yang berbeda. Jika sebuah perguruan tinggi ingin melakukan ekspansi dan membangun kampus baru, mengapa tidak mempertimbangkan membangun kampus di tengah pedesaan yang jauh dari pusat kota?

Bayangkan sebuah kampus yang berdiri di tengah perkampungan. Di sekitar kampus terdapat sawah, kebun, rumah penduduk, warung makan sederhana, masjid, dan fasilitas desa. Tidak ada mal besar di sebelah kampus. Tidak ada KFC atau Starbucks yang dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Tidak ada hotel bintang lima yang membuat kawasan tersebut menjadi mahal. Lingkungannya sederhana dan mahasiswa benar-benar hidup berdampingan dengan masyarakat.

Menurut saya, model seperti ini justru memiliki banyak manfaat yang selama ini kurang diperhitungkan.

Biaya Hidup Mahasiswa Bisa Lebih Murah

Salah satu masalah terbesar mahasiswa saat ini bukan hanya biaya kuliah, tetapi biaya hidup selama menjalani pendidikan. Mahasiswa yang kuliah di kota besar harus menghadapi biaya kos yang mahal, makanan yang semakin mahal, transportasi, hiburan, hingga berbagai pengeluaran konsumtif.

Ketika kampus berada di kawasan perkotaan, mahasiswa secara tidak langsung berada dalam lingkungan konsumsi. Setelah kuliah, ada pusat perbelanjaan. Ada kafe. Ada restoran. Ada tempat hiburan. Ada berbagai aktivitas yang mendorong mahasiswa mengeluarkan uang.

Sebaliknya, kampus yang berada di pedesaan dapat menciptakan lingkungan yang berbeda. Harga tanah dan biaya sewa rumah cenderung lebih rendah dibandingkan kawasan perkotaan. Makanan dari warung lokal juga berpotensi lebih terjangkau. Mahasiswa bahkan dapat menyewa kamar di rumah warga dan tinggal bersama masyarakat sekitar.

Dengan demikian, mahasiswa tidak harus menghabiskan sebagian besar uang bulanannya hanya untuk mempertahankan gaya hidup perkotaan.

Ini penting karena pendidikan tinggi seharusnya tidak membuat mahasiswa dan keluarganya terbebani oleh biaya hidup yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan proses pendidikan.

Kampus Tidak Boleh Menjadi Menara Gading

Perguruan tinggi sering disebut sebagai pusat ilmu pengetahuan. Namun, jangan sampai kampus justru menjadi menara gading yang terpisah dari masyarakat.

Mahasiswa belajar teori tentang kemiskinan, pembangunan desa, ekonomi kerakyatan, ketimpangan sosial, pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan berbagai persoalan sosial lainnya. Tetapi setelah keluar dari kelas, mereka hidup dalam lingkungan eksklusif yang hampir tidak pernah berinteraksi dengan masyarakat kecil.

Kampus di pedesaan dapat mengurangi jarak tersebut.

Mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana petani bekerja, bagaimana warung kecil bertahan, bagaimana perangkat desa menjalankan pemerintahan, bagaimana masyarakat mengelola lingkungan, dan bagaimana keluarga dengan pendapatan terbatas mengatur kehidupan sehari-hari.

Pengetahuan semacam itu tidak selalu bisa diperoleh dari buku teks.

Mahasiswa akan belajar bahwa masyarakat bukan sekadar objek penelitian atau angka statistik dalam laporan akademik. Mereka adalah manusia dengan persoalan, kebutuhan, dan aspirasi yang nyata.

Melatih Mahasiswa Hidup Sederhana

Ada persoalan lain yang menurut saya juga penting, yaitu perubahan gaya hidup setelah seseorang menjadi mahasiswa.

Tidak sedikit mahasiswa yang ketika masuk kuliah mulai mengalami perubahan gaya hidup. Ketika masih tinggal bersama orang tua, hidupnya mungkin sederhana. Setelah masuk kota, lingkungan pergaulan berubah. Nongkrong di kafe menjadi kebiasaan, membeli barang bermerek menjadi ukuran status sosial, dan aktivitas konsumtif dianggap sebagai bagian dari kehidupan mahasiswa.

Masalahnya bukan pada kopi, restoran, atau pusat perbelanjaan. Masalah muncul ketika gaya hidup mulai lebih besar daripada kemampuan ekonomi.

Kampus di pedesaan dapat menjadi lingkungan yang secara alami mendorong mahasiswa hidup lebih sederhana. Bukan karena mahasiswa dilarang menikmati hiburan, tetapi karena pilihan konsumsi memang tidak sebanyak di kota.

Dalam kondisi seperti itu, mahasiswa belajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Mereka belajar mengelola uang. Mereka belajar bahwa hidup tidak harus selalu mengikuti tren.

Pendidikan seperti ini sebenarnya penting untuk membentuk karakter.

Mempersiapkan Calon Pejabat dan Pemimpin

Mahasiswa hari ini adalah calon pemimpin masa depan. Sebagian akan menjadi pengusaha, akademisi, birokrat, politisi, profesional, atau pejabat pemerintahan.

Karena itu, pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya menghasilkan orang yang pintar secara akademik, tetapi juga manusia yang memahami realitas kehidupan masyarakat.

Bayangkan jika seseorang yang kelak menjadi pejabat pemerintah selama masa kuliahnya terbiasa hidup sangat sederhana, tinggal di lingkungan masyarakat biasa, makan di warung warga, dan berinteraksi dengan petani serta pedagang kecil.

Pengalaman tersebut dapat menjadi bekal moral ketika ia memiliki kekuasaan.

Memang, hidup sederhana ketika mahasiswa tidak otomatis membuat seseorang pasti tidak korupsi. Korupsi memiliki banyak penyebab, mulai dari lemahnya integritas, sistem pengawasan, kesempatan, hingga budaya organisasi. Namun, pengalaman hidup dekat dengan masyarakat kecil setidaknya dapat membangun empati dan pemahaman bahwa kebijakan pemerintah memiliki dampak nyata terhadap kehidupan orang biasa.

Kampus Bisa Menjadi Mesin Ekonomi Desa

Pembangunan kampus di pedesaan juga memiliki manfaat ekonomi yang besar.

Bayangkan sebuah desa yang sebelumnya hanya memiliki aktivitas ekonomi sederhana. Kemudian hadir kampus dengan ribuan mahasiswa. Tiba-tiba muncul kebutuhan terhadap kos, warung makan, laundry, fotokopi, percetakan, transportasi, toko kelontong, jasa internet, bengkel, hingga berbagai usaha lainnya.

Masyarakat desa mendapatkan pasar baru.

Anak-anak muda desa yang sebelumnya harus pergi ke kota untuk mencari pekerjaan mungkin dapat membuka usaha di sekitar kampus. Rumah warga dapat direnovasi menjadi tempat kos. Sawah dan lahan pertanian tetap dapat dipertahankan, sementara sektor jasa berkembang di sekitar kawasan pendidikan.

Dengan demikian, kampus bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Selama ini pembangunan ekonomi terlalu sering terkonsentrasi di kota. Akibatnya, masyarakat desa harus pergi ke kota untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, maupun kesempatan ekonomi. Jika perguruan tinggi justru dibangun di desa, sebagian arus ekonomi tersebut dapat dibalik.

Kampus Pedesaan Bukan Berarti Kampus Terpencil

Namun, pembangunan kampus di desa bukan berarti kampus harus sengaja dibuat sulit dijangkau. Infrastruktur dasar tetap harus tersedia. Jalan harus layak, internet harus cepat, listrik harus stabil, transportasi harus tersedia, dan fasilitas kesehatan harus dapat diakses.

Kampus juga harus memiliki perpustakaan, laboratorium, ruang kelas, fasilitas olahraga, serta fasilitas akademik yang memadai.

Yang perlu dihindari adalah membangun kampus di kawasan perkotaan hanya karena mengikuti gaya hidup mahasiswa. Perguruan tinggi seharusnya tidak harus dikelilingi pusat perbelanjaan untuk dianggap modern.

Kampus yang bagus bukan kampus yang paling dekat dengan mal, tetapi kampus yang mampu memberikan pendidikan terbaik dengan lingkungan yang mendukung pembentukan karakter mahasiswa.

Jika dirancang dengan baik, kampus di pedesaan dapat menjadi sebuah ekosistem pendidikan yang menarik: biaya hidup lebih rendah, mahasiswa lebih dekat dengan masyarakat, gaya hidup lebih sederhana, dan ekonomi desa ikut bergerak.

Pada akhirnya, ekspansi kampus seharusnya tidak hanya dipikirkan dari perspektif menambah jumlah ruang kelas. Perlu dipikirkan juga kampus seperti apa yang ingin kita bangun dan manusia seperti apa yang ingin kita hasilkan.

Mungkin sudah saatnya perguruan tinggi tidak selalu mengejar pusat kota. Sesekali, perguruan tinggi justru perlu datang ke tempat di mana sawah masih terbentang luas, rumah penduduk masih sederhana, dan kehidupan masyarakat belum sepenuhnya dikendalikan oleh budaya konsumsi.

Dari tempat seperti itulah kampus dapat kembali mengingatkan mahasiswa bahwa pendidikan tinggi pada akhirnya bukan untuk menjauh dari masyarakat, melainkan untuk kembali kepada masyarakat dengan membawa ilmu dan kemampuan yang bermanfaat.