Gagal Lulus Kuliah S1 Bukan Akhir Segalanya

Gagal Lulus Kuliah S1 Bukan Akhir Segalanya

Joki tugas – Kalau kalian gagal lulus kuliah S1 karena ada kendala tertentu yang membuat kalian harus berhenti, jangan langsung menganggap bahwa masa depan kalian sudah berakhir. Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana yang sudah kita buat sejak awal. Ada mahasiswa yang terpaksa meninggalkan kampus karena kondisi ekonomi, ada yang harus bekerja untuk membantu keluarga, ada yang mengalami masalah kesehatan, dan ada pula yang harus pulang ke kampung halaman karena orang tua tiba-tiba mengalami sakit berat.

Misalnya, kalian sedang kuliah di luar kota atau bahkan di luar pulau. Kemudian suatu hari orang tua di rumah mengalami stroke total sehingga membutuhkan bantuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Dalam kondisi seperti itu, keputusan untuk meninggalkan kuliah sementara dan pulang merawat orang tua bukanlah sebuah kegagalan. Ada tanggung jawab keluarga yang memang jauh lebih mendesak untuk diselesaikan.

Memang, pada awalnya keputusan tersebut mungkin terasa sangat menyakitkan. Teman-teman yang berangkat kuliah bersama kalian terus melanjutkan pendidikan, sementara kalian harus pulang dan meninggalkan kampus. Mereka mungkin kemudian wisuda lebih dahulu, mendapatkan pekerjaan, dan mulai membangun karier. Sementara itu, kalian masih berada di rumah merawat orang tua atau bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Pada titik tersebut, jangan membandingkan kehidupan kalian dengan kehidupan orang lain.

Kalian sedang menjalani keadaan yang berbeda.

Yang perlu dipahami adalah berhenti kuliah tidak selalu berarti berhenti belajar. Pendidikan dapat dilanjutkan kembali ketika keadaan sudah memungkinkan. Bahkan, perkembangan teknologi pendidikan saat ini membuat seseorang memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan masa lalu.

Kuliah Online Bisa Menjadi Jalan Keluar

Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah kuliah secara daring atau pendidikan jarak jauh. Sekarang sudah terdapat perguruan tinggi yang menyediakan program S1 dengan sistem pembelajaran online sehingga mahasiswa tidak harus selalu tinggal di kota tempat kampus berada.

Contohnya adalah BINUS University melalui BINUS Online. Program tersebut menawarkan pembelajaran S1 secara online dan ditujukan pula bagi orang yang ingin kuliah sambil bekerja atau menjalankan aktivitas lainnya. BINUS Online menjelaskan bahwa pembelajarannya menggunakan Learning Management System dan dirancang agar mahasiswa dapat belajar tanpa terlalu terikat oleh tempat dan waktu.

Pilihan lainnya adalah Universitas Siber Asia (UNSIA) yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh dengan sistem full online. Saat ini UNSIA menawarkan sejumlah program S1 PJJ, termasuk Informatika, Sistem Informasi, Teknologi Informasi, Manajemen, Akuntansi, dan Ilmu Komunikasi.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang tinggal jauh dari kota besar atau memiliki tanggung jawab keluarga tidak selalu harus meninggalkan impian mendapatkan gelar sarjana. Tentu saja, sebelum mendaftar, calon mahasiswa harus memeriksa status program studi, akreditasi, biaya, sistem pembelajaran, jadwal ujian, dan ketentuan akademiknya melalui informasi resmi kampus.

Berhenti Karena Tidak Punya Uang Juga Bukan Akhir

Ada pula mahasiswa yang terpaksa berhenti kuliah bukan karena tidak ingin belajar, tetapi karena sudah tidak mampu membayar biaya pendidikan. Kondisi seperti ini sangat nyata terjadi. Biaya kuliah, biaya kos, transportasi, makan, buku, dan kebutuhan hidup lainnya dapat menjadi beban yang berat bagi seseorang yang kondisi ekonominya sedang sulit.

Kalau kalian mengalami kondisi seperti itu, jangan merasa bahwa kesempatan pendidikan kalian sudah hilang selamanya.

Mungkin hari ini kalian belum memiliki uang untuk kuliah. Namun, lima atau sepuluh tahun kemudian keadaan ekonomi kalian bisa berubah. Kalian mungkin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, membangun usaha, memiliki penghasilan tambahan, atau menemukan kondisi keuangan yang lebih stabil.

Ketika uang sudah tersedia, tidak ada salahnya kembali mencari informasi mengenai perguruan tinggi yang memungkinkan kalian melanjutkan pendidikan.

Bahkan, bagi orang yang pernah kuliah sebelumnya, jangan lupa menanyakan kemungkinan transfer atau rekognisi pembelajaran sebelumnya. Beberapa program pendidikan menyediakan mekanisme pengakuan terhadap pendidikan, pengalaman kerja, atau pelatihan tertentu. BINUS Online, misalnya, mencantumkan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) sebagai salah satu fasilitas yang tersedia.

Namun, jangan langsung berasumsi bahwa seluruh mata kuliah lama kalian pasti dapat dikonversi. Setiap kampus memiliki aturan masing-masing. Karena itu, riwayat akademik seperti KHS, transkrip nilai, surat keterangan pernah kuliah, dan dokumen akademik lainnya sebaiknya disimpan dengan baik.

Tidak Ada Kata Terlambat untuk Menjadi Sarjana

Kesalahan terbesar yang sering dilakukan seseorang setelah berhenti kuliah adalah menganggap bahwa pendidikan hanya cocok dilakukan ketika masih berusia 18–22 tahun.

Padahal, kehidupan tidak sesederhana itu.

Ada orang yang langsung kuliah setelah SMA dan selesai pada usia 22 tahun. Ada yang baru kuliah setelah bekerja. Ada yang menikah terlebih dahulu. Ada yang harus merawat orang tua. Ada yang mengalami masalah ekonomi. Ada pula yang baru mempunyai kesempatan kuliah ketika usianya sudah 30, 40, bahkan lebih.

Kalau kalian baru memiliki uang untuk kuliah ketika berusia 40 tahun, lalu memutuskan kembali mengambil S1, tidak perlu malu.

Mungkin kalian akan duduk satu kelas dengan mahasiswa yang usianya jauh lebih muda. Mungkin kalian akan merasa canggung ketika pertama kali kembali menjadi mahasiswa. Tetapi ingat, kalian datang ke kampus bukan untuk memenangkan perlombaan usia. Kalian datang untuk menyelesaikan pendidikan yang pernah tertunda.

Teman kalian mungkin lulus pada usia 22 tahun. Kalian mungkin lulus pada usia 40 tahun. Perbedaan tersebut tidak otomatis menentukan siapa yang lebih sukses dalam kehidupan.

Jangan Terlalu Takut dengan Masa Depan

Setelah berhenti kuliah, kecemasan mengenai karier biasanya menjadi masalah berikutnya.

“Kalau saya tidak punya gelar S1, bagaimana masa depan saya?”

“Apakah saya masih bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus?”

“Apakah saya sudah terlalu tua untuk kuliah lagi?”

“Apakah teman-teman saya sudah terlalu jauh meninggalkan saya?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat manusiawi. Tetapi jangan sampai kecemasan tersebut membuat kalian berhenti bergerak.

Masa depan seseorang tidak hanya ditentukan oleh satu keputusan pada usia 20 tahun. Karier dapat berubah berkali-kali. Seseorang dapat memulai pekerjaan dari posisi rendah, kemudian memperoleh keterampilan, membangun jaringan, mendapatkan pengalaman, melanjutkan pendidikan, dan akhirnya memperoleh posisi yang jauh lebih baik.

Bahkan ketika belum bisa kuliah kembali, kalian tetap dapat membangun kemampuan melalui kursus, pelatihan, membaca buku, mengikuti sertifikasi, belajar teknologi, atau mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.

Dengan demikian, ketika kesempatan kuliah kembali datang, kalian tidak memulai dari titik nol. Kalian sudah membawa pengalaman hidup dan pengalaman kerja.

Jangan Membandingkan Timeline Hidup

Ada satu hal yang harus benar-benar diingat: kehidupan bukan perlombaan dengan teman seangkatan.

Teman kalian mungkin sudah wisuda ketika kalian masih merawat orang tua. Teman kalian mungkin sudah memiliki pekerjaan tetap ketika kalian baru mulai kuliah lagi. Teman kalian mungkin sudah memiliki rumah ketika kalian masih menyelesaikan skripsi.

Biarkan.

Kalian tidak mengetahui seluruh perjuangan yang mereka hadapi, sebagaimana mereka juga tidak mengetahui seluruh perjuangan yang kalian jalani.

Tugas kalian bukan mengejar kehidupan orang lain. Tugas kalian adalah memperbaiki kehidupan kalian sendiri sedikit demi sedikit.

Kalau hari ini belum bisa kuliah, bekerja dahulu. Kalau sudah punya uang, cari kampus. Kalau belum bisa kuliah tatap muka, pertimbangkan pendidikan jarak jauh. Kalau belum bisa mengambil banyak mata kuliah, cari sistem yang memungkinkan beban studi disesuaikan dengan kemampuan kalian.

Yang penting adalah tetap mempunyai jalan untuk bergerak maju.

Pada akhirnya, gagal menyelesaikan S1 tepat waktu bukanlah akhir segalanya. Berhenti kuliah karena harus merawat orang tua bukan kegagalan. Berhenti karena masalah ekonomi bukan berarti kalian tidak mampu. Bahkan kembali kuliah pada usia 40 tahun bukan sesuatu yang memalukan.

Ada orang yang menemukan kesuksesannya ketika masih muda. Ada pula yang baru menemukan arah hidupnya setelah melewati usia 40, 50, bahkan 60 tahun.

Jadi, kalau saat ini kalian sedang berada dalam fase kehidupan yang membuat pendidikan harus tertunda, jangan buru-buru mengubur cita-cita.

Kuliah boleh berhenti sementara. Gelar boleh tertunda. Tetapi jangan biarkan harapan untuk memiliki masa depan yang lebih baik ikut berhenti.

Mungkin jalan kalian memang lebih panjang daripada orang lain. Namun jalan yang panjang bukan berarti jalan yang salah.

Yang penting, ketika keadaan sudah memungkinkan, berjalanlah kembali.