Joki tugas – Banyak mahasiswa merasa bahwa tugas kuliah tidak dapat dirampungkan dengan cepat karena mereka menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan atau pengetahuan yang cukup. Ketika mendapatkan tugas yang sulit, mereka sering mengatakan bahwa referensi yang tersedia tidak memadai, materi yang diberikan dosen terlalu rumit, atau mereka belum memahami topik yang harus dikerjakan. Alasan-alasan tersebut memang terkadang benar. Namun, ada faktor lain yang sering kali tidak disadari, yaitu kondisi mental dan rasa insecure terhadap kemampuan diri sendiri.
Insecure dalam konteks mengerjakan tugas kuliah dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada mahasiswa yang sebenarnya sudah memahami pertanyaan, tetapi terus-menerus merasa takut jawabannya salah. Ada pula yang sudah memiliki ide, tetapi tidak segera menuliskannya karena berpikir bahwa gagasannya tidak cukup bagus. Bahkan, ada mahasiswa yang sudah menemukan referensi yang relevan, tetapi masih terus mencari referensi lain karena merasa belum yakin dengan sumber yang dimilikinya. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk mengerjakan tugas justru habis untuk berpikir dan meragukan diri sendiri.
Dalam kondisi seperti ini, masalah sebenarnya bukan selalu kekurangan kemampuan akademik. Masalahnya bisa terletak pada keberanian untuk mulai mengerjakan. Mahasiswa yang terlalu takut salah cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk mengambil keputusan. Setiap kalimat yang ditulis dipikirkan berulang kali. Setiap jawaban diperiksa berkali-kali. Bahkan sebelum menyelesaikan satu paragraf, muncul kekhawatiran apakah paragraf tersebut sudah benar atau belum. Pola seperti ini dapat membuat pekerjaan sederhana terasa sangat berat.
Sebaliknya, mahasiswa yang memiliki tingkat insecure lebih rendah biasanya lebih berani untuk memulai. Mereka tidak selalu berarti lebih pintar atau lebih menguasai materi. Mereka hanya lebih berani mengambil keputusan dan bersedia memperbaiki kesalahan setelah pekerjaan selesai. Ketika mendapatkan tugas, mereka membaca instruksi, mencari informasi yang diperlukan, kemudian langsung mengerjakan. Jika ada bagian yang kurang tepat, bagian tersebut dapat diperbaiki pada tahap revisi.
Kemampuan untuk mengatakan kepada diri sendiri bahwa “kerjakan dulu, perbaiki nanti” menjadi sangat penting dalam menyelesaikan tugas. Tidak semua tugas akademik harus langsung sempurna pada saat pertama kali ditulis. Draft pertama memang boleh memiliki kekurangan. Kalimat mungkin belum sempurna, struktur pembahasan mungkin masih berantakan, dan beberapa referensi mungkin masih perlu ditambahkan. Hal tersebut merupakan bagian normal dari proses menulis. Yang lebih berbahaya justru ketika mahasiswa tidak menghasilkan apa-apa karena terlalu sibuk mengejar kesempurnaan sejak awal.
Rasa takut melakukan kesalahan juga sering membuat mahasiswa melakukan riset secara berlebihan. Mereka membuka puluhan artikel, membaca banyak buku, dan mencari berbagai sumber di internet, tetapi tidak kunjung menulis. Padahal, tidak semua informasi yang ditemukan harus dimasukkan ke dalam tugas. Referensi seharusnya membantu mahasiswa membangun argumentasi, bukan menjadi alasan untuk menunda pekerjaan. Setelah mendapatkan sumber yang cukup relevan, mahasiswa perlu berani mengolah informasi tersebut menjadi tulisan.
Hal yang sama terjadi ketika mahasiswa mengerjakan tugas yang membutuhkan pendapat atau analisis pribadi. Mereka sering berpikir bahwa jawaban mereka harus sama persis dengan pendapat ahli atau harus menggunakan bahasa akademik yang sangat rumit. Padahal, tugas analisis justru membutuhkan kemampuan mahasiswa untuk mengolah informasi dan menyampaikan pemikirannya secara logis. Selama argumentasi memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, mahasiswa tidak perlu takut untuk menyampaikan pemikirannya.
Namun, mengurangi insecure bukan berarti mahasiswa harus menjadi orang yang ceroboh. Sikap percaya diri tetap perlu diimbangi dengan ketelitian. Mahasiswa tetap harus membaca instruksi tugas, menggunakan referensi yang kredibel, memeriksa data, memperhatikan tata bahasa, serta melakukan revisi sebelum mengumpulkan tugas. Perbedaannya adalah proses tersebut dilakukan setelah pekerjaan mulai terbentuk, bukan menjadikan rasa takut sebagai alasan untuk tidak memulai.
Salah satu cara sederhana untuk mengurangi rasa insecure adalah membagi tugas menjadi bagian-bagian kecil. Misalnya, daripada berpikir “saya harus menyelesaikan makalah 20 halaman”, mahasiswa dapat memulai dengan membuat judul, kemudian menyusun pendahuluan, mencari beberapa referensi utama, membuat kerangka pembahasan, dan menulis satu bagian demi satu bagian. Dengan cara tersebut, beban mental menjadi lebih ringan karena mahasiswa tidak menghadapi keseluruhan tugas sekaligus.
Mahasiswa juga perlu memahami bahwa kecepatan menyelesaikan tugas tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasan. Ada faktor keberanian mengambil keputusan, kemampuan mengelola waktu, pengalaman, kebiasaan menulis, dan kemampuan mengendalikan rasa takut. Seseorang yang tidak terlalu takut salah terkadang dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat daripada seseorang yang sebenarnya lebih pintar tetapi terlalu banyak mempertimbangkan setiap langkah.
Pada akhirnya, insecure memang dapat menjadi salah satu penghambat produktivitas akademik. Ketika rasa takut salah terlalu besar, energi mental habis sebelum pekerjaan benar-benar dimulai. Mahasiswa akhirnya merasa bahwa tugas tersebut sangat sulit, padahal sebagian kesulitannya berasal dari keraguan terhadap kemampuan diri sendiri.
Karena itu, mahasiswa perlu belajar membangun keberanian untuk memulai. Tidak harus langsung sempurna. Tidak harus langsung menghasilkan tulisan terbaik. Yang penting adalah menghasilkan sesuatu terlebih dahulu, kemudian memperbaikinya secara bertahap. Mulai, selesaikan, periksa, lalu revisi adalah pola yang jauh lebih produktif daripada terus-menerus berpikir apakah diri kita mampu atau tidak. Dalam banyak kasus, tugas kuliah menjadi cepat selesai bukan karena seseorang tiba-tiba menjadi lebih pintar, tetapi karena ia berhenti terlalu lama meragukan dirinya sendiri.

