Jangan Jadi Mahasiswa Cupu: Kuliah Bukan Hanya Mengejar IPK, tetapi Membangun Jaringan

Jangan Jadi Mahasiswa Cupu: Kuliah Bukan Hanya Mengejar IPK, tetapi Membangun Jaringan

Joki tugas – Ada satu realitas dunia kerja Indonesia yang menurut saya terlalu jarang dibicarakan secara terbuka di ruang kelas: mendapatkan pekerjaan tidak selalu sesederhana mengirim CV, mengikuti tes, lalu dipilih berdasarkan siapa yang memiliki nilai paling tinggi.

Secara ideal, kita tentu menginginkan sistem yang sepenuhnya meritokratis. Orang dengan kemampuan terbaik mendapatkan pekerjaan terbaik. Orang dengan IPK tinggi, pengalaman bagus, sertifikasi lengkap, dan CV menarik seharusnya mendapatkan kesempatan lebih besar.

Namun dunia nyata tidak selalu sesederhana itu.

Dalam proses rekrutmen, perusahaan sering kali menghadapi masalah yang disebut information asymmetry. HRD tidak benar-benar mengenal semua pelamar. Mereka hanya melihat CV beberapa menit, melakukan wawancara singkat, kemudian harus mengambil keputusan mengenai seseorang yang sebenarnya belum mereka kenal.

Dalam situasi seperti itu, rekomendasi dari orang yang dipercaya dapat menjadi sangat berharga.

Bayangkan Anda melamar sebuah perusahaan. Anda memiliki CV yang bagus, IPK tinggi, pengalaman magang, dan berbagai sertifikat. Tetapi di antara ratusan pelamar, ada satu kandidat yang ternyata pernah menjadi junior dari HRD tersebut ketika kuliah. Mereka pernah satu organisasi. Pernah mengadakan acara bersama. Pernah bekerja dalam satu kepanitiaan. Bahkan HRD tersebut mengetahui bahwa kandidat itu memang bertanggung jawab ketika diberi tugas.

Siapa yang lebih mudah mendapatkan perhatian?

Tidak otomatis kandidat yang memiliki kenalan akan diterima. Tetapi kandidat tersebut memiliki satu keunggulan yang sangat besar: sudah ada tingkat kepercayaan awal.

HRD tidak lagi sepenuhnya bertanya, “Orang ini sebenarnya seperti apa?”

Karena ada orang yang bisa memberikan jawaban.

Inilah alasan saya berpendapat bahwa mahasiswa jangan menjadi “mahasiswa cupu” yang hanya datang ke kelas, pulang ke kos, mengerjakan tugas, belajar untuk ujian, mendapatkan IPK tinggi, kemudian menghabiskan empat tahun kuliah tanpa benar-benar mengenal banyak orang.

IPK penting.

Tetapi jaringan juga penting.

Dan jangan salah memahami jaringan sebagai kegiatan mencari “orang dalam”. Networking yang sehat bukan berarti menjilat senior, mendekati pejabat, atau berteman hanya karena seseorang mempunyai jabatan.

Networking adalah membangun hubungan manusia.

Anda masuk organisasi. Anda bertemu senior. Anda menjadi panitia. Anda mengikuti seminar. Anda ikut volunteer. Anda bergabung dengan komunitas. Anda berdiskusi dengan alumni. Anda membantu teman mengerjakan sebuah proyek. Anda ikut kegiatan sosial.

Awalnya semua itu mungkin terlihat tidak menghasilkan apa-apa.

Tetapi lima tahun kemudian, orang-orang yang Anda temui tersebut sudah tersebar ke berbagai perusahaan dan institusi.

Ada yang menjadi HRD.

Ada yang menjadi manajer.

Ada yang menjadi pengusaha.

Ada yang bekerja di kementerian.

Ada yang menjadi konsultan.

Ada yang menjadi dosen.

Ada yang menjadi politisi.

Ada pula yang mungkin membangun perusahaan sendiri.

Dan suatu hari mereka mungkin membutuhkan orang.

Di sinilah nilai sebenarnya dari jaringan mulai terlihat.

Contoh paling ekstrem: jejaring Prabowo

Kalau ingin memahami bagaimana jaringan dapat bekerja dalam kehidupan profesional, lihat saja dunia politik dan pemerintahan.

Presiden Prabowo Subianto sendiri mempunyai perjalanan karier yang sangat panjang di lingkungan militer. Di Akademi Militer, seseorang tidak hanya mendapatkan pendidikan militer, tetapi juga membangun hubungan dengan teman seangkatan, senior, junior, dan berbagai jaringan perwira.

Hubungan yang dibangun selama puluhan tahun tentu tidak tiba-tiba hilang ketika seseorang pensiun atau masuk ke dunia politik.

Salah satu contoh yang pernah menjadi perhatian publik adalah hubungan Prabowo dengan sejumlah tokoh berlatar belakang militer yang sudah dikenalnya sejak perjalanan kariernya. Nama Letjen TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin, misalnya, disebut sebagai salah satu orang yang dekat dan dipercaya Prabowo. Pada 2024, ketika spekulasi mengenai kabinet Prabowo berkembang, kedekatan tersebut juga menjadi bagian dari pembicaraan publik mengenai kemungkinan posisi Sjafrie dalam pemerintahan.

Ada pula contoh lain yang memperlihatkan bagaimana hubungan lama dapat tetap memiliki relevansi. Sejumlah pengurus perusahaan yang pernah dikaitkan dengan pengadaan alutsista, misalnya, disebut merupakan teman seangkatan Prabowo di Akademi Militer.

Namun contoh ini harus dibaca dengan hati-hati. Kita tidak bisa mengatakan bahwa seseorang mendapatkan jabatan hanya karena berteman dengan Prabowo. Penunjukan pejabat memiliki banyak faktor: kompetensi, pengalaman, kepentingan politik, kebutuhan organisasi, kepercayaan, dan sebagainya.

Tetapi justru di situlah pelajarannya.

Hubungan yang dibangun selama puluhan tahun dapat menghasilkan trust yang tidak bisa dibentuk hanya dengan mengirim CV.

Prabowo bahkan memperlihatkan pentingnya membangun team dan kepercayaan. Ketika Kabinet Merah Putih dibawa mengikuti pembekalan di Akmil Magelang pada Oktober 2024, salah satu tujuan yang disampaikan adalah membangun kerja sama, kekompakan, dan team-building. Para menteri dan wakil menteri dikumpulkan agar semakin mengenal satu sama lain dan membangun soliditas sebagai sebuah tim.

Ini menunjukkan satu hal yang sering dilupakan mahasiswa: organisasi besar pun bekerja melalui manusia, dan manusia bekerja melalui hubungan serta kepercayaan.

Teman kuliah hari ini bisa menjadi bos Anda besok

Sekarang bayangkan kehidupan mahasiswa.

Anda masuk kuliah bersama 100 orang.

Sebagian dari mereka mungkin sekarang masih sama-sama bingung mencari masa depan.

Ada yang menjadi mahasiswa biasa.

Ada yang aktif organisasi.

Ada yang menjadi ketua BEM.

Ada yang pintar coding.

Ada yang mulai berjualan.

Ada yang aktif mengikuti lomba.

Ada yang memiliki kemampuan komunikasi luar biasa.

Anda mungkin tidak terlalu memikirkan mereka hari ini.

Tetapi sepuluh tahun kemudian, situasinya berubah.

Salah satu teman Anda mungkin menjadi direktur perusahaan.

Teman lainnya menjadi founder startup.

Teman lainnya menjadi pejabat pemerintah.

Teman lainnya menjadi HRD.

Teman lainnya menjadi konsultan.

Teman lainnya mungkin mempunyai perusahaan konstruksi yang membutuhkan tenaga teknik.

Dan Anda mungkin sedang mencari pekerjaan.

Pada saat itulah Anda baru sadar bahwa orang yang dahulu duduk di sebelah Anda ketika kuliah ternyata mempunyai posisi yang sangat strategis.

Jaringan itu bekerja dalam jangka panjang.

Itulah sebabnya kehidupan kampus jangan disia-siakan.

Jangan hanya mengejar nilai.

Jangan hanya mengejar IPK 4,00.

Jangan hanya mengoleksi sertifikat webinar.

Jangan hanya menjadi mahasiswa yang dikenal dosen karena selalu duduk di depan.

Cobalah menjadi manusia yang dikenal oleh banyak orang karena bisa dipercaya.

Ikut organisasi.

Ikut volunteer.

Ikut kepanitiaan.

Ikut komunitas.

Datang ke acara alumni.

Kenal dengan senior.

Kenal dengan junior.

Berteman dengan mahasiswa dari fakultas lain.

Kalau Anda mahasiswa teknik, jangan hanya berteman dengan anak teknik. Kenal juga dengan mahasiswa ekonomi, hukum, komunikasi, kedokteran, dan desain.

Karena Anda tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi partner bisnis Anda sepuluh tahun mendatang.

Tetapi jangan salah: networking bukan pengganti kompetensi

Ada kesalahan lain yang juga harus dihindari.

Jangan sampai membaca tulisan ini kemudian berpikir bahwa “yang penting punya koneksi, IPK tidak penting.”

Itu juga salah.

Jaringan tanpa kompetensi hanya akan menghasilkan satu kesempatan.

Setelah diberi kesempatan, kemampuan Anda akan diuji.

Orang mungkin bisa merekomendasikan Anda untuk masuk sebuah perusahaan. Tetapi kalau Anda ternyata tidak mampu bekerja, reputasi Anda justru akan hancur.

Karena itu rumusnya sederhana:

Kompetensi membuat Anda layak dipilih.
Reputasi membuat orang percaya kepada Anda.
Networking membuat orang tahu bahwa Anda ada.

Ketiganya harus dibangun bersamaan.

Mahasiswa yang hanya memiliki kompetensi tetapi tidak dikenal siapa-siapa akan lebih sulit mendapatkan akses.

Mahasiswa yang memiliki banyak koneksi tetapi tidak memiliki kompetensi akan sulit mempertahankan posisi.

Tetapi mahasiswa yang kompeten, memiliki reputasi baik, dan mempunyai jaringan luas memiliki kombinasi yang jauh lebih kuat.

Jangan menunggu sampai lulus untuk mulai networking

Kesalahan terbesar adalah baru membangun jaringan ketika sudah membutuhkan pekerjaan.

Ketika semester delapan baru bertanya kepada senior, “Mas, ada lowongan enggak?”

Ketika baru lulus baru menghubungi teman lama.

Ketika membutuhkan rekomendasi baru mencari dosen.

Padahal hubungan yang kuat tidak bekerja seperti itu.

Anda harus membangun hubungan sebelum membutuhkan sesuatu.

Bantu teman ketika mereka membutuhkan bantuan.

Kerjakan proyek organisasi dengan serius.

Jaga komunikasi dengan senior.

Jangan menjadi orang yang hanya muncul ketika ada kepentingan.

Karena reputasi sebenarnya dibangun dari hal-hal kecil yang berulang.

Orang akan mengingat bahwa Anda dulu bertanggung jawab.

Orang akan mengingat bahwa Anda tidak pernah meninggalkan tim ketika ada masalah.

Orang akan mengingat bahwa Anda bisa dipercaya.

Dan bertahun-tahun kemudian, ketika sebuah kesempatan muncul, nama Anda mungkin terlintas di kepala mereka.

“Coba hubungi dia. Dulu waktu kuliah dia orangnya bagus.”

Kalimat sederhana seperti itu mungkin lebih berharga daripada seratus sertifikat yang Anda kumpulkan.

Jadi, jangan sia-siakan empat tahun kuliah

Kuliah adalah salah satu periode kehidupan yang paling unik.

Anda berada di lingkungan yang mempertemukan ribuan orang dengan latar belakang berbeda. Semua orang sedang membangun masa depan. Anda memiliki kesempatan untuk bertemu calon pengusaha, calon birokrat, calon profesional, calon akademisi, calon politisi, dan calon pemimpin perusahaan.

Jangan hanya menggunakan kampus untuk mendapatkan ijazah.

Gunakan kampus untuk membangun manusia yang kelak mengenal Anda.

Belajar yang serius.

Kejar IPK yang bagus.

Bangun kemampuan teknis.

Tetapi setelah kelas selesai, jangan langsung pulang ke kamar.

Sesekali ikut organisasi.

Ikut kegiatan sosial.

Ngobrol dengan senior.

Makan bersama teman.

Datang ke acara alumni.

Bangun komunitas.

Perluas lingkaran pertemanan.

Karena mungkin salah satu orang yang Anda temui hari ini bukan sekadar teman kuliah.

Dia bisa menjadi atasan Anda, partner bisnis Anda, investor Anda, klien Anda, pemberi rekomendasi Anda, atau orang yang suatu hari membuka pintu menuju pekerjaan impian Anda.

Maka jangan menjadi mahasiswa yang hanya pintar di atas kertas.

Jadilah mahasiswa yang kompeten dan dikenal.

Sebab dalam dunia profesional, kesempatan sering kali tidak datang mengetuk pintu rumah Anda.

Terkadang kesempatan datang melalui seseorang yang mengenal nama Anda.