Joki tugas – Ada keresahan yang menurut saya perlu dibicarakan secara terbuka: mengapa Program Studi Manajemen seolah-olah lebih dekat dengan kelompok tertentu daripada kelompok masyarakat lainnya? Di banyak kampus swasta ternama, seperti BINUS University, Universitas Prasetiya Mulya, dan berbagai perguruan tinggi yang kuat dalam pendidikan bisnis, kita sering melihat banyak mahasiswa keturunan Tionghoa memilih Manajemen, Bisnis, Akuntansi, Entrepreneurship, atau bidang lain yang berkaitan dengan dunia usaha. Tentu saja hal ini bukan sesuatu yang salah. Justru sebaliknya, ada banyak hal yang dapat dipelajari dari pilihan pendidikan tersebut.
Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika masyarakat Jawa, khususnya generasi mudanya, justru masih sering memandang pendidikan tinggi terutama sebagai jalan menuju pekerjaan formal: menjadi ASN, pegawai pemerintah, birokrat, dosen, guru, atau pejabat. Cita-cita tersebut tentu sah dan tidak perlu direndahkan. Pemerintahan membutuhkan orang-orang yang kompeten. Akan tetapi, jika orientasi tersebut menjadi terlalu dominan, kita perlu bertanya: siapa yang akan membangun perusahaan, menciptakan lapangan kerja, mengelola industri, mengembangkan perdagangan, dan menjadi pengusaha profesional?
Di sinilah saya melihat pentingnya mengubah cara pandang.
Bagi anak muda Jawa yang memang memiliki cita-cita menjadi pengusaha, menurut saya Program Studi Manajemen merupakan salah satu pilihan yang sangat masuk akal. Menjadi pengusaha tidak seharusnya dipahami hanya sebagai aktivitas berdagang. Pengusaha profesional membutuhkan ilmu tentang pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, operasi, strategi bisnis, perilaku konsumen, teknologi, hingga pengambilan keputusan berdasarkan data.
Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari masih banyak orang yang memahami bisnis berdasarkan pengalaman turun-temurun saja. Berdagang dilakukan karena orang tua berdagang, mengelola toko mengikuti kebiasaan keluarga, menentukan harga berdasarkan perasaan, melakukan promosi sekadarnya, dan mengelola uang usaha bercampur dengan uang pribadi. Semua itu memang bisa menghasilkan uang, tetapi ada batas ketika usaha ingin berkembang menjadi lebih besar.
Di sinilah ilmu manajemen menjadi penting.
Ilmu manajemen pada dasarnya mengajarkan bagaimana sebuah usaha dikelola secara sistematis. Seorang pedagang pasar, misalnya, tidak harus berhenti menjadi pedagang hanya karena ingin menggunakan ilmu kampus. Justru ilmu kampus seharusnya membuat pedagang tersebut menjadi lebih profesional.
Bayangkan seorang pedagang sayur di pasar. Dengan pendekatan tradisional, ia mungkin hanya berpikir bagaimana barangnya habis terjual hari ini. Tetapi dengan ilmu manajemen, ia dapat mulai menghitung margin keuntungan setiap produk, mengetahui produk mana yang paling cepat berputar, menghitung biaya distribusi, memahami perilaku pelanggan, menentukan harga berdasarkan biaya dan permintaan, mengelola arus kas, bahkan menggunakan media sosial untuk memperluas pasar.
Pedagang tersebut masih berdagang di pasar yang sama. Barangnya mungkin masih sayur, beras, pakaian, atau kebutuhan sehari-hari. Namun cara berpikirnya berbeda. Ia tidak lagi hanya menjadi pedagang berdasarkan kebiasaan, tetapi mulai menjadi business owner yang memahami sistem.
Menurut saya, inilah salah satu hal yang perlu dipelajari masyarakat Jawa.
Bukan berarti orang Jawa tidak memiliki budaya berwirausaha. Sama sekali bukan. Di berbagai daerah Jawa terdapat pedagang, petani, pengrajin, pemilik warung, pengusaha makanan, pemilik toko, dan pelaku UMKM yang telah menjalankan usaha selama puluhan tahun. Masalahnya bukan tidak ada aktivitas ekonomi, tetapi bagaimana aktivitas tersebut dapat naik kelas menjadi usaha yang lebih terorganisasi, produktif, dan memiliki daya saing.
Kita perlu membedakan antara berdagang dan membangun bisnis.
Berdagang dapat dilakukan berdasarkan pengalaman. Membangun bisnis membutuhkan sistem.
Berjualan dapat dimulai dengan modal kecil. Membangun perusahaan membutuhkan kemampuan mengelola modal, manusia, teknologi, risiko, dan strategi.
Karena itu, menurut saya, generasi muda Jawa perlu lebih berani memasuki dunia pendidikan bisnis. Jangan sampai ada anggapan bahwa kuliah Manajemen hanya cocok untuk anak orang kaya, keturunan tertentu, atau mereka yang sejak kecil sudah hidup di lingkungan bisnis. Justru mahasiswa yang berasal dari keluarga biasa dapat memperoleh manfaat besar dari pendidikan tersebut.
Saya bahkan melihat ada peluang besar apabila anak-anak Jawa mulai lebih serius menggeluti bidang entrepreneurship. Mereka memiliki modal sosial dan budaya yang kuat: jaringan keluarga yang luas, kedekatan dengan komunitas, kemampuan beradaptasi, serta pengalaman kehidupan masyarakat yang beragam. Modal tersebut dapat dikombinasikan dengan ilmu bisnis modern.
Namun, perubahan ini membutuhkan perubahan mentalitas.
Kita perlu berhenti menganggap keberhasilan hidup hanya diukur dari apakah seseorang berhasil menjadi pegawai negeri atau memperoleh jabatan. Menjadi ASN bukan sesuatu yang buruk. Menjadi birokrat juga merupakan profesi penting. Tetapi masyarakat membutuhkan lebih dari itu. Kita membutuhkan orang yang menciptakan pekerjaan, bukan hanya orang yang mencari pekerjaan. Kita membutuhkan pengusaha yang membangun pabrik, perusahaan teknologi, jaringan distribusi, usaha pertanian modern, industri kreatif, hingga bisnis berbasis digital.
Jika terlalu banyak anak muda hanya diarahkan untuk mengejar posisi sebagai pegawai, sementara jumlah pengusaha profesional tidak bertambah secara signifikan, ekosistem ekonomi masyarakat juga akan sulit berkembang.
Karena itu, saya melihat pilihan kuliah Manajemen bukan sekadar pilihan akademik. Bagi sebagian orang, Manajemen dapat menjadi alat perubahan kelas ekonomi.
Anak seorang petani dapat belajar bagaimana pertanian dijadikan bisnis agribisnis. Anak pedagang pasar dapat belajar bagaimana mengubah toko kecil menjadi jaringan usaha. Anak pemilik warung dapat belajar mengenai branding, digital marketing, manajemen keuangan, dan ekspansi bisnis. Anak dari keluarga sederhana dapat belajar bagaimana membangun perusahaan yang kelak mempekerjakan puluhan atau bahkan ratusan orang.
Yang perlu diubah adalah cara kita memandang pendidikan.
Jangan kuliah hanya untuk mendapatkan ijazah dan mencari pekerjaan. Kuliah juga dapat digunakan untuk memahami bagaimana dunia bekerja.
Dan jika ada orang Jawa yang sejak kecil sudah memiliki cita-cita menjadi pengusaha, menurut saya tidak ada alasan untuk merasa bahwa Manajemen bukan dunianya. Justru masuklah ke sana. Pelajari bagaimana perusahaan dibangun. Pelajari bagaimana modal bekerja. Pelajari pemasaran. Pelajari akuntansi. Pelajari strategi. Pelajari teknologi. Pelajari bagaimana sebuah usaha kecil dapat menjadi perusahaan besar.
Bahkan jika setelah lulus akhirnya tetap berdagang di pasar, tidak masalah. Yang berubah adalah cara berpikirnya.
Dagang tetap dagang, tetapi sekarang menggunakan perhitungan. Warung tetap warung, tetapi memiliki pembukuan. Toko tetap toko, tetapi memiliki strategi pemasaran. Usaha keluarga tetap usaha keluarga, tetapi mulai memiliki sistem manajemen dan target pertumbuhan.
Menurut saya, masyarakat Jawa tidak perlu meninggalkan identitasnya untuk menjadi pengusaha modern. Yang perlu ditinggalkan adalah anggapan bahwa dunia bisnis bukan sesuatu yang perlu dipelajari secara serius.
Kita perlu lebih banyak anak muda Jawa yang berani berkata: Saya tidak hanya ingin bekerja di perusahaan orang lain. Saya ingin belajar bagaimana membangun perusahaan saya sendiri.
Jika mentalitas semacam ini tumbuh, Program Studi Manajemen tidak lagi dipandang sebagai prodi milik kelompok tertentu. Ia menjadi ruang bagi siapa pun yang ingin belajar membangun usaha secara ilmiah dan profesional.
Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang Cindo atau Jawa. Persoalannya adalah tentang keberanian sebuah kelompok masyarakat untuk memperluas cita-citanya. Kalau selama ini sebagian orang sudah lebih dahulu melihat pendidikan bisnis sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi, masyarakat lainnya juga tidak boleh tertinggal.
Karena bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki birokrat yang baik, tetapi juga bangsa yang memiliki pengusaha yang berilmu, profesional, inovatif, dan berani menciptakan lapangan pekerjaan.
Maka, bagi anak muda Jawa yang memang bercita-cita menjadi pengusaha, jangan ragu masuk Manajemen.
Belajarlah dari siapa pun yang sudah lebih dahulu maju. Bukan untuk menjadi seperti mereka, tetapi untuk mengambil ilmunya, mengembangkannya, lalu membangun kekuatan ekonomi kita sendiri.

